“Ini pasti mudah”, pikirku. Toh aku sudah pernah melakukannya dan ini bukan kali pertama.
Kemarin ditempat kerja, nurani kugadaikan demi sejumput kepuasan. Atau minggu lalu dalam ruangan tersekat, tentu saja tempat paling aman untuk melakukannya. Sebulan yang lalu juga, dan aku masih ingat raut wajahnya saat kuselesaikan transaksi itu.
Tapi tidak, kali ini harus berbeda. Special untuknya, aku akan berusaha lebih. Aku tak mau terlambat start apalagi terlambat melakukan manuver unutk tampil lebih syahih.
Semua harus melihat aku lebih baik dari lainnya. Harus !!
Mematut diri didepan cermin, membusungkan dada. Lihat aku, tak ada alasan dia akan menolak dan membuat usahaku ini sia-sia, tersenyum puas. Tapi apa ini…. Sebuah noda?!
Ah, tak masalah, letaknya didada, dengan pakaian yang tepat itu akan tertutupi. Tapi…ga enak juga, mana sih tisu dan cairan pembersih. Hm, tak ada tisu kertas pun jadilah *menarik selembar kertas*Dan seketika, tertegun membacanya. Laras mata memburam dalam genangan telaga.
Duhai jiwa yang rapuh, mengapa kau pikir bisa menjual diri padanya dengan cara yang sama. Pada yang lain mungkin kau bisa, bahkan harus diakui kau sangat ahli. Kemarin kau memuaskannya dengan meletakkan semu imaji dalam tutur, minggu lalu kau lakukan dengan dasar eksistensialisme, dan sebulan yang lalu dengan memanipulasi keadaan sebenarnya.
Apa kau pikir dia melihat dari kaca mata mereka??
Pakaian alim yang kau kenakan, bahasa sopan yang kau gunakan atau dalil-dalil yang kau perdengarkan lantang.
Apa kau pikir dia tak bisa membaca hakikat ?! Dasar gila, dialah pencipta hakikat.
Dia yang meletakkan jubah keagungan untuk kau kenakan. Dia yang menangguhkan balasan yang sudah sepantasnya kau dapatkan. Dia yang menyamarkan aib yang nyata-nyata kau lakukan. Dia yang memberimu kesempatan untuk berbalik padanya.
Kesempatan yang [mudah-mudahan] 2 minggu lagi akan hadir dalam sisa jatah waktumu. Akankah kau si-siakan dengan aksi jual diri murahan itu?? Pikir pakai otakmu [jika nuranimu sudah membeku]!!
Masih tak sanggup berhenti menangis. Sungguh saat ini aku benar-benar ingin tersesat dalam rimba tafakur. Menekuri potongan ayat-ayat suci yang tercecer di kolong dan sudut laci. Memahami makna ”Dengan mencintai, kau sedang bertaruh tanpa pernah kalah”*. Dengan CINTA bukan dengan nafsu, ego bahkan logika.
Dan aku ingin menjual diri..walau dengan cintaku yang tak sempurna ini. Berharap mendapat bagian disisinya.
* postingan B’ toga a.k.a nesia.wordpress.com
Maaf bang kalau tulisan ini agak melenceng dari kontekstual tulisan abang tapi inilah terjemahan dari pikiran chaosku atas tulisan indah abang. Semoga abang bisa meneteskannya pada putra-putri abang, kita perlu banyak pemikir seperti abang.


September 3, 2007 at 9:46 am
sensitip tentunya bila saya berkoment secara saya, jadi lebih baik diam..memahami apa yang terbaca….
Laakkk raaa yo ngono mbakyu?????
September 3, 2007 at 9:58 am
Aristoteles pernah bilang, manusia “mendesain” tuhan tidak saja mirip dengan mereka secara fisik, tetapi juga menyangkut cara berpikirnya.
Atau dengan agak emosional, aku pernah ngirim komen gini; (halah, sok mensejajarkan diri dengan filsuf besar) “Hati-hati, Bung! Merasa sudah memahami Tuhan adalah awal kesesatan, karena Dia punya bisikan rahasia yang tersendiri, kepada setiap hati.”
Atau Mei, juga kawan-kawan lain, ada sedikit sisa waktu? Kata-kata itu hasil perasanku pada kisah Rumi berikut ini.
Ketika Musa sedang berjalan, ia mendengar seorang penggembala sedang berdoa sambil meratap.
“Oh Tuhan di manakah gerangan Engkau, karena aku ingin melayani-Mu dan menjahitkan sepatu-Mu, dan menyisirkan rambut-Mu. Aku ingin mencucikan baju-Mu, membunuh kutu kepala-Mu dan membawakan susu untuk-Mu, oh duhai Maha Terpuji.”
Mendengar kata-kata yang dianggap bodoh tersebut, Musa membentak, “Kepada siapa kamu berbicara? Betapa kata-kata itu tidak bermakna; memalukan dan liar! Sumbat mulutmu dengan kapas!… Tuhan yang Maha Agung tidak memerlukan pelayanan seperti itu.”
Sang penggembala menjadi amat kecewa dan sedih, dan ia merobek bajunya sambil pergi ke arah yang tidak menentu.
Kemudian datang wahyu Tuhan kepada Musa.
“Kamu telah memisahkan hamba-Ku dari Aku…Aku telah anugerahkan kepada setiap manusia cara berdoa masing-masing; Aku telah berikan cara khusus kepada masing-masing untuk menunjukkan cinta. Bahasa yang digunakan oleh orang Hindustan adalah sangat indah bagi pemeluk Hindu, begitu pula bahasa Sindhu yang amat indah bagi pemeluk Sindhu.
Aku tidak melihat pada ucapan lidah, tetapi Aku melihat ke dalam sanubari dan perasaan terdalam hati manusia. Aku melihat ke dalam hati manusia untuk melihat apakah ada kerendahhatian, walaupun ucapannya tidak menunjukkan demikian. Cukuplah sudah segala macam ungkapan dan metofora! Aku menginginkan hati yang membara dengan api cinta, hati yang membara!”
Maaf, kepanjangan. Kontemplasimu menuluar rupanya, Mei.
September 3, 2007 at 10:25 am
“Berharap mendapat bagian disisinya”. bukan berarti bunda ingin segera pulang ke hadapan-Nya kan ?
tunggu ajah saatnyah pastih akanh tibahhh.. :\
(opo to iki wong asline yo ga paham….)
September 3, 2007 at 12:01 pm
baca dulu,mencoba dipahami.
September 3, 2007 at 3:38 pm
Setelah aku baca ternyata aku tetep nggak bisa komentar.
Kesimpulan:otakku lemot…
September 3, 2007 at 4:30 pm
*hmm aku memahami tapi aku ga mampu mengungkapkan dalam bahasa tulisan… hanya bermain dalam hati dan otakku*
ps. posting ini membuat aku bingun dalam mengerti..
btw, apakah tiga temen aku nih [regsa, liex dan may] lagi akur membuat aku harus merenung dan terharu membaca post2 mereka belakangan ini yah…
i du no bu thanks very much
September 3, 2007 at 4:35 pm
Dear Alma
**btw, apakah tiga temen aku nih [regsa, liex dan may] lagi akur membuat aku harus merenung dan terharu membaca post2 mereka belakangan ini yah…***
Ternyata hatimu sehalus sutra brother…
kekekeke
September 3, 2007 at 8:27 pm
Tulisannya padat dan penuh-makna.
Agak sulit aku mencoba memahaminya.
Bisa diuraikan dengan lebih jelas, nggak?
September 4, 2007 at 9:16 am
2: regsa
yo wess, alon alon ae, reg
2: B Toga
seperti biasa, koment bang toga selalu menyisipkan makna.
Yang paling kutakutkan sebenarnya cuma kalau nuraniku sendiri ga bisa, ga berani berkata jujur dan tunduk pada pemahaman yang ditegakkan tanpa ada dasar kebaikan didalamnya, karena aq tahu hatiku lemah
Koq jadi mode kontemplasi lagi ya bang, bisa muntah yang laen bacanya. hehehe
2: mas liks
pelan2 aja mas
di copy
digandakan banyak2
trus dijual (bua bungkus pa an gt)
pasti jauh lebih bermakna
2: alma
aq percaya koq, tenang aja
*menyodorkan tisu ke alma*
2: sayur
sayur…. terserah kmu lah
2: M Shodiq Mustika
Bisa.. bisa pak, yang mana??
September 4, 2007 at 11:09 am
andai dia juga membaca ini…
September 4, 2007 at 6:40 pm
kirain mo jual diri beneren..
salam kenal mba
September 5, 2007 at 9:03 am
2:caplang
i wish it too
2: senyumeva
heheeheh
lam kenal balik… urlnya ga da, koq avatarnya keliatan.. bijimana siy??
sory ga bs koment back
September 5, 2007 at 8:36 pm
Kok tiba2 jadi teringat sebuah tulisan dengan judul “Hilangnya sebuah kehilangan uang besar”
September 5, 2007 at 8:38 pm
Hehehehe sama dengan Mbak May kan? Avatar kelihatan tapi URL gak ada. Coba dech komentar2 Mbak May
September 6, 2007 at 6:02 am
hwehehehe…….
lagi2.. DIA cengengesan.. kejutan-kejutan kecil dalam hidup.
September 7, 2007 at 7:25 am
*tecenung*
…
September 7, 2007 at 8:05 am
2: mas deking
tulisan sopo iku mas??
and setelah diperhatikan …. iya ya mas, ternyata komentku juga sering gitu, masa harus log out dulu baru terdeteksi dengan baik dan benar… bijimana WP ini
Tq, atas pemberitahuannya
2: Irdix
i really wish so (mudah2an aq ga dijewer Nya)
2:danalingga
silaken
September 7, 2007 at 10:08 am
::ikut-ikutan dana, plus pake nangis kecil

…moga-moga aku (masih) punya do’a…(soalnya udah agak jarang nyuruh-nyuruh, yang paling-paling seringnya maksa agar aku diingatNYA…meskipun dengan pakaian compang-campingku ini..)