Archive for Oktober, 2007

Memoar Hujan

 
Sekarang mang gi musim hujan. Hari ini juga begitu, hujan turun dengan deras, membuat aku mengurungkan niat untuk pulang dan menunggu hujan reda, di sebuah warung sambil menikmati seporsi mie aceh. Diluar jendela , aku melihat beberapa anak sedang bermain hujan, kejar-kejaran di sepanjang trotoar……sesuatu yang mengingatkan aku pada memoir masa kecil.

Ucapan terimakasih

Ini ucapan terimakasih secara resmi atas bantuan pemikiran dan pendapat yang menjadi marka dalam permulaan sakit ini hingga menggantung di titik jenuh seperti ini. But it just a break, pals.
Aniwei, apapun yang telah kalian cecarkan diruang tamuku, aku sangat menghargainya. Dan ucapan ini tertuju kepada…

Seorang pelari dengan caranya meletakkan makna [...]

Terlalu banyak…

Terlalu banyak………terlalu penuh……… tapi juga begitu kosong
Ceceran makna yang tak berarti
Sebab….
Kata-kata menutup pintu hikmahnya padahal aku sudah mengiba dan berlutut untuk membiarkan sedikiiit saja ia membiarkan aq untuk melihat dan menangkap hakikat itu melalui ujung mata.
Ribuan baris abstraksi melingkungi.. menyentuh.. mencumbu jiwa lalu pergi begitu saja, mereka benar-benar telah berhasil mempermainkan aku. Kesal.. amat sangat [...]

Sebuah cawan mungil –aku lebih suka menyebutnya kerdil, dengan penuh kebanggaan kuisi dengan apa yang bisa membuat orang lain merasa kagum atasnya. Pekerjaan ini kulakukan dengan kesungguhan, sesuatu yang jarang kutemui dalam prilakuku kepadaNya. Semua kukerjakan, kuhitung, kuukur dan kujalankan atas dasar logika, dan aku jatuh terpuruk, pun egoku melarang aku untuk mengaku kalau aku [...]

Pernahkah…?

Pernahkah kau melihat aurora?
Kata orang itu sangat indah dan begitu megah

Ini Kita

Pertama-tama marilah kita ucapkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, yang mana telah memberikan kesempatan kepada kita semua untuk membuang waktu didepan monitor memperhatikan teks ga penting ini (asli kaya pidato pejabat khan??).

Bingkisan Idul Fitri..

Sorry… aku lagi ga pengen minta maap

Kupinjam suluhmu untuk menerangi perjalananku
Karena punyaku, padam di persimpangan lalu

Sebuah katastrope, ya itulah yang kubutuhkan saat ini
Sebab ada banyak ketertinggalan dan aku takut aku tak punya cukup waktu menebusnya
 
Dan bila sekarang mimpi-mimpi mengejarku
Itu suatu kewajaran
Aku telah meletakkan salinan harapan didalamnya
Ruh bagi keinginan dan cita
 
Maka betapapun ini hanya perjalanan sepenggalah
Takdir akan menuliskannya sebagai babad
Juga bila ini akan berakhir air mata
Tetap kupilih remuk dalam mencoba dan [...]