Selamat Hari Ibu
Maafkan aku ma, aku pemberontak, dan aku minta maaf atas kekurang ajaran itu. Maafkan aku ma, karena bersedia menempuh jalan terjalku sendiri. Maafkan aku ma, aku tak bisa menjadi sewarna dengan yang lain. Tapi jangan tanyakan kenapa, seharusnya engkau lebih memaklumi itu daripadaku. Bukankah ini keputusan pa dan ma yang memilih melepaskan aku dini, 11 tahun, untuk mencoba cangkang dewasa, mengurus hidupku sendiri. Tak ingatkah engkau ma, betapa aku pernah mengiba untuk tidak meninggalkan aku sendiri, tapi kalian hanya berkata, aku sanggup maka teruskanlah. Tak ingatkah kau ma, deretan panjang pertanyaan kenapa dan kalian hanya berkata, aku anak yang kuat, teruskanlah. Dan aku pegang janjiku ma, aku tak menangis, aku berdiri ma, sendiri, memilih perisaiku, memilih senjataku, membangun bentengku, dan aku survive dengan itu selama ini. Kemudian ketika takdir kembali mengharuskan aku pulang didekatmu, engkau tercengang melihat betapa kerasnya aku. Aku minta maaf tentang itu ma. Maafkan karena aku telah memilih warnaku sendiri, telah memilih jalanku sendiri, satu-satunya hal yang menghalangi aku untuk pergi adalah ikatan ini, engkau tak bisa melepaskanku sebelum melihat teman perjalananku, dan aku tak bisa meninggalkanmu sebelum memastikan saudaraku memakai baju zirahnya, menggantikanku. Tak ada yang kusesali dari fragmen itu, kupahami sekarang, itu yang terbaik untuk membentukku. Itu sebabnya ma, kuletakkan setingginya penghormatan dan kekagumanku akan ketegaran perjuanganmu. Kerut itu adalah saksi dari keberanian dan keikhlasanmu.
Engkau adalah tiang kami ma, tiang yang telah kehilangan pasangannya, dan aku hanya batu, mengganjal ketimpangan itu, keberadaanku memiliki batas hingga tunas-tunas itu cukup kuat memangku bebannya. Tapi engkau telah mengabdikan sisa hidupmu untuk kami. Tak kuragukan ketegaran dan kehebatanmu untuk tetap tegak seperti ini, tidak pernah sedetikpun, engkau luar biasa ma. Ketegaranmu megilhami ku untuk tak pernah berkata putus asa dan selalu bangkit mencoba.
Ma, kutahu aku berhutang banyak atas setiap tetes air mata yang turun karena tingkahku. Maaf mengecewakanmu ma, kumohon ribuan maaf, tapi seperti halnya pertengkaran kita yang selalu berakhir dengan ciuman takzim kepadamu, kugurat janji bersetia menjagamu.
==== Untuk mamaku, the best warrior world ever had.====
==== I Love U Mom, I wish U Enjoy the holiday mom, sorry can’t give much====
*deretan kata-kata yang berjejalan tapi tak bisa kubariskan*


Desember 22, 2007 at 2:27 pm
selamat hari simbok…
hanya simbok yang sanggup memberi cinta kasih dengan 1000% ketulusan .
Mbokk..i miss u
Desember 22, 2007 at 2:35 pm
Happy mother’s day…
Desember 22, 2007 at 3:41 pm
met hari ibu…!!

kapan mbak may dt selamat-in (krn udh jd ibu)???
Desember 22, 2007 at 6:46 pm
Selamat hari ibu may.
Kafan giliran jadi ibu nih?
Desember 23, 2007 at 11:16 am
Telah menerjemahkan :
“selamat hari ibu”
Desember 23, 2007 at 11:59 am
Happy mother day, mbak..
Desember 23, 2007 at 12:28 pm
Mom still my daily inspiration
Desember 23, 2007 at 3:41 pm
susah yak kalo mo ngebahas ibu
met hari ibu, may!
Desember 24, 2007 at 4:35 pm
2: regsa
selamat hari simbok juga buat simbok nya gery
2: praditya
yup.. same
2: deet
met hari ibu juga
kapan mbak may dt selamat-in (krn udh jd ibu)???
kapan yaaaa
2: om dana
met hari ibu juga om
kafan jadi ibu??
SEGERA om
*siyul-siyul santai*
2: goop

i think so
thanks
2: zink
buat emaknya zink juga
2: momoye
yupe 1000%
2: caplang
he eh
met hari ibu too
Desember 24, 2007 at 8:51 pm
Apapun yang mamakku lakukan (sering bikin aku sebel),dalam sadarku yakin, dia menyayangiku dan menginginkan yang terbaik untukku.
salam kenal
salamatahari,
Desember 25, 2007 at 7:08 am
kau telah mempesona dengan keperkasaan mu.
teruslah begitu …
wanita yang sering membikin gempa, membuat sekelilingnya terus bergerak.
aku yakin tak ada yang perlu di sesali oleh seorang ibu yang telah berhasil membesarkan anak sepertimu.
saya yakin dirimupun nanti bakal jadi ibu yang baik seperti ibumu.
Desember 25, 2007 at 2:49 pm
ribuan kilo..jalan yang kau tempuh..lewati rintangan untuk aku anakmu..
ibuku sayang masih terus berjalan..walau tapak kaki penuh darah penuh nanah..
seperti udara kasih yang kau berikan..tak mampu kubalas..ibu..
Ingin kudekat..dan menangis dipangkuanmu sampai kutertidur bagai masa kecil dulu..
Lalu doa-doa kajuri seluruh tubuhku, dengan apa ku membalas..ibu..
(IBU, song by:iwan fals)
Desember 25, 2007 at 4:43 pm
Merasakan batin sang ibu sudah cukupkah itu sebagai tanda bahwa kita berbakti kepada sang mama?
Maaf ini pertanyaan buat saya…
jangan hiraukan May..
Kenapa dikau selalu mengilangkan link and match ke mari May kalau koment di tempatku…
adakah penjelasan yang masuk akal? hehehDesember 26, 2007 at 3:46 pm
2: hanum
ya, i know that feelin’
deep in heart we do love her but somehow -ego, take place and we forget it.
2: bedh
*tumben bedh serius… curigation*
makasih ya bedh
2: P Kurt
Merasakan batin sang ibu sudah cukupkah itu sebagai tanda bahwa kita berbakti kepada sang mama?
jauh dari mencukupi pak
—–
’bout miss link ituh…. aku juga ndak tau pak, tiap kali aku log in and koment pasti begitu, makanya aku lebih suka koment ga log in. Maapken
*mudah2an itu penjelasan yang masuk akal*
Januari 3, 2008 at 1:03 pm
ibu tu emang sosok yg hebat yah?dari dia,kita bisa jadi seperti ini,dari doanya kita bisa sampai disini..setiap tetesan airmata dan keringat adalah setiap aliran darah kita.Sejauh kita melangkah,toh untuk ibu juga kita pulang dan takluk bersim8mohon ampun..nice post!