Aku ingin diingat seperti ini dik. Kata-kata itu terlepas begitu saja dari bibirnya. Perlu beberapa saat bagi otakku untuk membaca arahnya. Pandangannya menerawang, jemarinya kaku dan punggung yang tegang, mengatakan kalau ia tengah berdamai dengan hatinya.
Sejenak kami saling diam, menjelajahi pikiran masing-masing. Kukumpulkan satu persatu byte-byte informasi yang ditumpahkannya dengan datar. Seorang wanita usia 30an, cantik, lembut dengan semangat dan ketegaran yang luar biasa, mengurai sebagian kisah hidupnya sebagai istri pertama dari 3 koleksi suaminya.
Dia marah? Iya, Dia terluka? Iya. Tapi apakah dia mengeluarkan serapah? Engga, Dia bermasam didepan suaminya? Engga, Dia bersikap antipati pada madunya? Engga. Dia berhasil merefleksikan ibu peri dalam dunia nyata, walaupun yang kulihat adalah bidadari yang terluka.
Mungkin dia ga suka dengan caraku, menatap lekat matanya, karena dia segera mengalihkan pembicaraan. Sayangnya keakuanku terlanjur meradang.
“Mbak, beda tipis antara baik dan bodoh!”
Dia terkejut, aku juga, tak kuduga kalimat itu segera dieksekusi oleh otakku sebelum sempat dihaluskan. Aku menyesal, aku merasa mencungkil lukanya.
”Maaf ya mbak, aku ga bermaksud…”
”Gapapa… kenyataan seringkali jauh dari harapan kita kan?”
”Tapi kita kan punya pilihan” balasku dengan nada ga puas.
”Mbak udah memilih”
Aku terdiam, benar, dia udah memilih dan sekarang dia tengah menjalankan konsekuensinya. Dia menerima takdirnya sebagai Pemberi dengan sangat baik, entah dia menyadarinya atau enggak.
”Dik, saat kamu makin dewasa, memiliki keluarga, prioritasmu berubah. Hal yang penting dan ga penting, juga ikut berubah. Sekarang mungkin kamu belum bisa memahaminya.. ada saatnya”
”Tapi itu gak adil mbak!!”
Dia hanya tersenyum, menghilang sebentar dibalik gorden lalu kembali dengan membawa setoples kue kering. ”Tergantung dari mana kita memandangnya” jawabnya sambil menawarkan kue buatannya itu.
Kuambil satu tapi ga bisa kumasukkan ke mulut, aku menunggu penjelasannya. ”Maksudnya?”
”Saat kami menikah, takdir mas dan mbak bertemu tapi kami tetap memiliki takdir masing-masing, bukannya menjadi satu gitu”
”Mbak memandang keadaan ini adalah takdir mbak, perjalanan yang dipilihkan Allah, kalau mbak bisa melewatinya mbak akan mendapatkan balasan yang setimpal. Bukankah Allah Maha Tahu segalanya?”
”Kalau surga sebagai balasannya, apa menurutmu keadaan ini setimpal?”
Bam!!! Keakuanku luruh seketika. Sekarang aku bisa melihat permainan yang dimainkannya. Jauh lebih tinggi, ya tentu saja itu sebanding dengan reward yang ditawarkannya. Tadinya aku pikir dia ga tau kemampuan dan di level apa dia bermain. Aku salah, dia jauh diatas aku, dia menguasai permainan ini dengan baik karena dia punya strategi yang jelas untuk itu.
Aku kagum padanya, caranya bermain, kemampuannya. Well, actually kupikir itu memang strategi terbaik, memberi dan bukan berkorban. Dia memberikan seluruhnya bukan mengharap pasangannya akan melakukan hal yang sama karena dia paham bukan pasangannya jurinya, dia sadar reward yang diinginkannya bukan pasangannya yang memegang kuasanya. Kurevisi pendapat awalku, sekarang aku justru kasihan pada suaminya, lelaki itu telah ketinggalan banyak.
Aku meninggalkan rumahnya dengan perasaan nyaman, entah kenapa tiba-tiba aku merasa tercerahkan. It’s a wonderful day
.
Mbak, U R amazing, hanya orang idiot yang ga bisa liat cahayamu, tetap bersinar mbak, cahayaNya akan menuntun cahayamu. I do believe it


Januari 3, 2008 at 3:14 pm
Hmmm… Benar2 dahsyat…
Jarang istri yg bisa seperti itu….
Januari 3, 2008 at 5:31 pm
Mungkin saya idiot ya? Jadi nggak bisa lihat cahaya mbaknya.
Januari 3, 2008 at 6:31 pm
Kenapa begitu??

Bukannya malah harusnya seneng ya??
_____________________________
Wuahhh multi dilema, ko bisa gitu ya??
tapi saya suka endingnya, seperti sebuah film berakhir dengan ciuman
Januari 3, 2008 at 7:53 pm
Hmm… ini kenyataan bukan? bukan dalam cerpen/film/sinetron?
saya salut kelelakian kadang bermain di satu egoisme, tapi di satu hal (pengorbanan) kadang kalah blas…
tapi saya May setelah ketemu orang itu, bagaimana seandainya May bermain di bidang itu, ya seperti si wanita yang kau anggap beradal di level atas ituh…
Januari 3, 2008 at 8:08 pm
kapan kamu bertemu istri saya ?
Jangan kaw ajarin macam-macam , biarlah dia begitu adanya walo menurutmu dia melakukan karena terpaksa, ndak..dia tulus sukarela dan ada sebab-sebab laen yang kaw tak mengerti .
Januari 4, 2008 at 4:32 am
hmmm…salam ajah deh buat beliau
Januari 4, 2008 at 10:55 am
mungkin dia emang bidadari…
Januari 4, 2008 at 4:10 pm
terlalu sinetron, tapi lumayanlah buat pemula.
Januari 4, 2008 at 4:12 pm
ada baiknya diteladani kalau ada kisah yang sama dalam nyata.
Januari 4, 2008 at 4:50 pm
2: praditya
*
kupikir juga gitu dit
*perasaan yang satu ini selalu nangkring di pertamax.. pertamax hunter kayanya
2 : danalingga
that part cuma pendapat ku pribadi om,
inklusif
hehehehe
2: om goop
kita bicara sesuatu yang kompleks kan om, pendapat manapun bisa jadi benar dan salah tergantung nilai yang dijadikan pegangan
=========
suka endingnya?? hehehehe.. aku malah suka bagian c****n nya, sayangnya ga ada
2: P Kurt
Hmm… ini kenyataan bukan? bukan dalam cerpen/film/sinetron?
Pak.. ini realita yang ada, mungkin ini malah sedikit lebih baik dari kebanyakan.
saya salut kelelakian kadang bermain di satu egoisme, tapi di satu hal (pengorbanan) kadang kalah blas…
pengorbanan mungkin bisa mengalahkan tapi tak pernah terasa nyaman, hanya memberi yang bisa memberikan kemenangan total < just my opinion loh pak
tapi saya May setelah ketemu orang itu, bagaimana seandainya May bermain di bidang itu, ya seperti si wanita yang kau anggap berada di level atas ituh…
)
heheheh makanya aku bilang dia berada di level atas pak, permainanku jauh dibawah pak, keakuanku sampai sekarang terlalu sulit untuk menunduk (maksudnya gini pak.. saat ini aku merasa belum sanggup untuk menjadi sepertinya, even I’m a risk taker tp untuk yang satu itu, aku pilih fight dengan cara berbeda
2: regsa
hehehe… kalau dia istrimu ger, bersyukurlah atas anugrah yang diberikan itu. Tapi… dia ga melakukannya dengan terpaksa ger.. dia bermain nothing to loose, sesuatu yang teramat sulit dilakukan manusia biasa terutama perempuan
2: Hoek
Aku usahakan tapi ga janji ya hoek
*coz.. aku blum ada konfirmasi ke dia kalau aku share story ini ke sini… bercerita seperti itu aja mungkin bukan keinginan dia, aku lah yang memaksakan arah pembicaraan*
2: caplang
i believe she is
2: ganda and pakis terluka
bener mas, ini terlalu sinetron makanya saking muaknya kita dengan sajian luka orang lain kita menjadi antipati terhadap kasus sejenis… menjadi terlalu klise kan?? terlalu akrab sehingga malah menjadi terlalu dibuat-buat.
Jauh dari kesan isu gender yang menjadi “skenario” utama cerita ini, menurutku intinya adalah bagaimana kau menghadapi
masalahtantangan yang dilekatkan padamu.Aku ga tau apa kisah ini bisa dijadikan teladan, bagiku ini hanya pembanding,
Yang kudapat dari dia adalah…. hidup ini pilihan, maka jalankan pilihanmu dengan seluruhmu. Tapi lagi-lagi ini hanya pendapat seorang ordinary, kebenarannya dipertanyakan
Januari 4, 2008 at 9:22 pm
Wuiih.. Wanita sehebat itu kira-kira pabriknya masih mbikin gak, mbak??
Kalo masih, tolong pesankan satu untuk saya..
Januari 4, 2008 at 10:39 pm
Seorang wanita baja. Salut deh.
Salam kenal!
Januari 5, 2008 at 6:28 am
yang saya alami Tuhan mencintai makhluknya dengan sangat indah, saking indahnya betul2 dibutuhkan kebodohan yang bulat untuk dapat merasakannya dengan baik. sedikit saja kepintaran mengusik kebodohan maka saya akan merasakan kalau saya sedang bertepuk sebelah tangan.
Januari 5, 2008 at 11:17 am
@qzink666
saya jg mau
Januari 5, 2008 at 9:39 pm
Bidadari koq bisa terluka ya?

Harus diingat banyak jalan menuju surga, dimadu bukan satu2 nya cara
Januari 7, 2008 at 2:29 am
pengeeen donk punya istri begituu
Januari 7, 2008 at 2:44 pm
smangat mbak..
Januari 7, 2008 at 2:51 pm
mbak, kpn ke rmh toh?!
kyk-a dt gak ada ngasih kue buatan dt ke mbak may deh..
*amnesia mode on*
[serius nih]
wanita kyk gitu langka mbak..
yup, dia itu emang ‘bidadari’..
too hard for being like her..
dt mo nyampe level mbak may aja dlu deh..
*eh, mbak udah ampe level mana toh?! level 5 yah, udah mo tamat kan??! he5x..*
Januari 7, 2008 at 2:54 pm
2: qzink
kayanya wanita seperti itu limited edition zink
b’doa ajah mudah2an jatahmu yang begitu
2: mardies
maksutnya salut ke si mbak ituh kan
*koq ikutan narsis yah ??*
2: bedh
wuih…. dalem bedh
ga bisa koment
terlalu indah untuk dibalas
2: mas irwan

hayah…
2: um ibrahim

hehehe… ya maklumin ja bahasanya ummi
yup, that’s right ummi… (makanya aku jawab koment P Kurt diatas kaya gitu)
yang aku salut adalah keberaniannya untuk memilih pilihan itu ummi, jarang-jarang kan? butuh hati yang super untuk bisa memilih itu
2: bang badi
banyak2in do’a ajah bang
2: sezsy

kasih semangatnya ke aku ya???
anw.. tengkyu
2:deet



kuenya masih ditunggu loh deet
kapan ya? *amnesia mode on*
deet mo nyampe ke level ane? wuih berat deet, jalanin tirakatnya
ada 10 level deet, and ane masih di pertengahannya
deet level 3 ya? hmm.. pantes *menatap dengan tatapan melecehkan*
anter yah…..
Januari 7, 2008 at 4:33 pm
wah, dt level 3??
seven to go dunk…
iya deh, junior kan bljr ama senior-a..
*manggut2 aja ama pak polisi vijay*
btw, beli rujak lama bener mbak?!!
*sakit perut yah??! he5x..*
Maret 7, 2008 at 6:41 pm
mbak yang hebat ya?
Mei 15, 2008 at 9:38 am
Kasihan, Kagum, Nyesal, Ngiri, Sayang, Cinta. Coba duluan lahir dana dapat perempuan kaya gitu. Mungkin gak bakal mendua. Tapi penyakitnya lelaki, ” Rumput tetangga selalu tampak lebih hijau”.