Archive for the 'High Level Imagination' Category
Go, kemarin aku melihat teduh diujung malam. Aku ingin menyapanya tetapi ia tengah asyik bergelayut manja disisi Jiwa. Kuurungkan niatku jadinya, aku tak tega. Pertemuan mereka selalu singkat dan jarang sekali.
Ini ekskresi keakuanku [tidak dibuat untuk dimengerti, dipercaya dan diikuti]:
Aku punya sahabat, kami sangat dekat, apa yang aku pikirkan dia bisa menerjemahkannya dengan tepat, begitupun aku, tak perlu dia bahasakan, aku bisa mendengarnya. Persahabatan ini mungkin lebih tepat disebut sebagai simbiosis, simbiosis mutualisme. Aku membutuhkan pemikir yang bisa mengerti alur berpikirku, semuanya, tanpa kira-kira. Dan dia membutuhkan aku untuk tetap bisa berpikir.
Tidak untuk Mode Serius On !!!
Bismillahirrahmanirrahiem
(mudah-mudahan ga jadi ajang ngotot adu pendapat)
Menanggapi komentar terhadap postingan Apakah Aku Harus Kasihan? Kemaren, yang sebenarnya ga kuduga ditanggapi serius gitu (niat awalnya cuma nuangin uneg-uneg). Jadi kupikir mungkin perlu juga kuluruskan beberapa hal disini. Bukan karena ingin memaparkan pembelaanku atas “ke-keras kepala-anku” juga bukan karena aq mendapatkan seorang pendukung (katanya siy fanatik..), yang [...]
“Dek..kasihan dek..” seorang ibu separuh baya dengan pakaian kumal mendekatiku sambil menyodorkan mangkuk kosong. Kutatap wajahnya sejenak, memelas tapi kemudian aq hanya menggeleng kepala dan berkata, “Maaf ya bu”.
Dy segera berlalu tapi aq masih bisa melihat wajahnya berubah bersungut sungut. Sambil ngedumel ga jelas. Dalam hati aq Cuma bisa miris ngeliat dy. Tidak, aq [...]
Ini cuma kemungkinan, sekedar refleksi, mungkin satiris tapi yang jelas bukan bujukan apalagi memprovokasi. Dibawa asyik aja, selagi isu pilkada lagi hot-hotnya begini. Kali aja ada diantara sodara-sodari yang punya niat turut merame-ramekan Pilkada di tempat ente. Padahal ente tidak memiliki basis partai, ga pernah memimpin organisasi masa yang lumayan gede, ga punya pengalaman [...]

