Archive for the 'My Contemplation' Category
Surat terbuka kepada seorang aku –Pencari di entry level:
Alam menuntunmu mencari jawaban yang kau pertanyakan dalam gelisah tidurmu. Sayang sekali keadaanmu malah mirip seperti laron yang tertarik cahaya, mendekat dalam arah sempurna tapi tak mengerti makna. Hanya jasadmu yang hadir disini, ruhmu entah kemana ia pergi mengembara.
Bulan sabit pucat pasi menggantung dilangit dalam frame hitam putih yang didekap sunyi. Desir angin memanggil kenangan berkumpul, mengadakan kenduri, sebuah perhelatan sederhana. Kata-kata pun mulai mengalir, fasih menatah kalimat, menyebab sungai beriak mencari muara. Pun begitu, bisakah begini? Berderetan, berjejalan, pertanyaan masuk berhamburan. Aku gemetar.
Bacalah
Ini ekskresi keakuanku [tidak dibuat untuk dimengerti, dipercaya dan diikuti]:
Aku punya sahabat, kami sangat dekat, apa yang aku pikirkan dia bisa menerjemahkannya dengan tepat, begitupun aku, tak perlu dia bahasakan, aku bisa mendengarnya. Persahabatan ini mungkin lebih tepat disebut sebagai simbiosis, simbiosis mutualisme. Aku membutuhkan pemikir yang bisa mengerti alur berpikirku, semuanya, tanpa kira-kira. Dan dia membutuhkan aku untuk tetap bisa berpikir.
Terlalu banyak………terlalu penuh……… tapi juga begitu kosong
Ceceran makna yang tak berarti
Sebab….
Kata-kata menutup pintu hikmahnya padahal aku sudah mengiba dan berlutut untuk membiarkan sedikiiit saja ia membiarkan aq untuk melihat dan menangkap hakikat itu melalui ujung mata.
Ribuan baris abstraksi melingkungi.. menyentuh.. mencumbu jiwa lalu pergi begitu saja, mereka benar-benar telah berhasil mempermainkan aku. Kesal.. amat sangat [...]
Sebuah cawan mungil –aku lebih suka menyebutnya kerdil, dengan penuh kebanggaan kuisi dengan apa yang bisa membuat orang lain merasa kagum atasnya. Pekerjaan ini kulakukan dengan kesungguhan, sesuatu yang jarang kutemui dalam prilakuku kepadaNya. Semua kukerjakan, kuhitung, kuukur dan kujalankan atas dasar logika, dan aku jatuh terpuruk, pun egoku melarang aku untuk mengaku kalau aku [...]
Pernahkah kau melihat aurora?
Kata orang itu sangat indah dan begitu megah
Kupinjam suluhmu untuk menerangi perjalananku
Karena punyaku, padam di persimpangan lalu

